Feeds:
Pos
Komentar

Archive for the ‘Opini’ Category

Stop Kekerasan!

Stop Kekerasan!

Berita tentang kekerasan yang di lakukan sekelompok pelajar SMU cukup mengagetkan. Terlebih pelaku dan korbannya perempuan. Miris sekali ketika melihat video rekaman yang ditayangkan di televisi itu. Konon antara si korban dengan geng ada masalah. Dengan mudahnya mereka melakukan pemukulan dan menampar., Namun kenapa model penyelesaianna harus begitu? Apa yang ada dipikiran mereka masing-masing kala itu? Kelompok remaja putri dari Pati, Jawa Tengah itu menamakan diri Geng Nero.

Sebelumnya pernah pula ditayangkan rekaman video kekerasan di STPDN. Juga belum lama menyusl tayangan rekaman dari STIP (sampai ada yang menyingkatnya menjadi Sekolah Tinggi Ilmu Penganiayaan)Urusan kekerasan bukan persoalan oleh laki-laki atau perempuan sebab semuanya adalah manusia. Rasanya perilaku itu bukan berperikemanusiaan.

Melihat gambaran ssemua itu, rasanya kita tak bisa total menyalahkan mereka (terutama remaja belia prilaku kekerasan tersebut). Apakah mungkin karena pengaruh tayangan di TV yang tidak sedikit adalah gambaran kekerasan. Atau lingkungan di sekitarnya yang memang penuh kekerasan. Namun tak ada salahnya kita tengok ke dalam diri kita. Sebagai orangtua apakah kita sudah memberikan contoh atau teladan di rumah? Sebagai orangtua sudahkah mendidik anak antikekerasan?

Bagaimana dengan Undang-undang Republik Indonesia nomor 23 tahun 2004 tentang Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga? Apakah semua orangtua sudah memahami isinya? Bukankah “Keluarga Bahagia adalah Keluarga Bebas Kekerasan’.

Kita Catat bersama bahwa U.U 23 tahun 2004 adalah menepatkan norma baru :

-Tidak ada toleransi terhadap kekerasan dalam rumah tangga

-Kekerasan dalam rumah tangga bukan urusan pribadi tetapi urusan masyarakat dan

Pemerintah. Kewajiban kita semua untuk menghapusnya.

Iklan

Read Full Post »

Ketika Harus Jadi Ibu Tunggal (III)

Keluarga yang utuh adalah idaman semua orang pastinya. Adakalanya cerita hidup berujar lain dan tak terelakkan.

Lantas bagaimana dengan anak-anak? Mereka adalah masalah utama dalam peristiwa perpisahan pasutri. Pastinya mereka sangat kecewa dan sangat terluka. Dua orang yang sama-sama berarti dan sangat dicintai akhirnya berpisah. Namun, mereka tak miliki kemampuan mencegah. Kondisi menjadi tidak mudah juga setelah mereka harus mondar mandir diantara kedua orangtuanya

Sebaik-baiknya kondisi diciptakan sang ibu, menjadi tidak mudah buat anak. Ada ketidaksiapan di hatinya untuk bersama salah seorang diantara orangtuanya. Apalagi mereka harus menjaga kedua perasaan orangtuanya ketika berada di rumah salah seorang dari mereka. Meski ibu memberikan kasih yang banyak, tetap saja di hati mereka ada yang masih kurang (seringkali tak diungkapkan). Umumnya anak cenderung menjadi malu pada lingkungan, suka melamun, banyak diam, mudah marah dan sangat sensitive (naumn tidak mutlak tergantung back up lingkungan).

 

Ibu tunggal yang menjadi kepala keluarga sekaligus berperan sebagai ayah tentu tak ingin anak-anak hancur. Ada upaya dilakukan. Pertama, ibu dalam peristiwa perpisahan ini tak menyalahkan siapa-siapa dan sadar diri bukan super women. Namun belajar bisa legowo (meski tidak segampang membalik telapak tangan) menerima kondisi, maka energi positf lebih mudah di tebar ke jiwa anak-anak. Kedua, yakinkan diri bahwa anak-anak yang masuk dalam kondisi ini telah diberi kekuatah oleh Tuhan, tak perlu khawatir berlebihan. Ketiga, tidak menjelek – jelekkan sang ayah, apalagi memanfaatkan anak untuk balas dendam pada sang ayah (jangan!!) Keempat, mendekatkan anak-anak pada adik laki-laki sebagai pengganti figur ayah dan memberi lingkungan yang kondusif untuk mental dan pemenuhan emosi mereka.

Kelima, Mungkin ibu perlu lakukan konseling pribadi pada orang yang dipercaya atau pada ahlinya untuk bisa lebih bijaksana hadapi tingkah polah anak, jika suatu kalau rada over. Keenam, ibu mau bekerja keras untuk peningkatan ekonomi demi pemenuhan fasilitasi anak dari segala aspek. Ketujuh, memberi contoh prilaku. Ajak melihat sekeliling terutama orang-orang di bawah, bahwa masih banyak yang jauh lebih menderita dibanding mereka. Kedelapan, menciptakan waktu khusus bercengkrama, hanya antara ibu dan anak. Biarkan mereka menumpahkan isi hatinya atau sebaliknya. S, setelahnya lakukan kegiatan yang menyenangkan. Kesembilan, berikaan anak kebebasan, jika sewaktu-waktu ingin bersama ayah atau ibunya.

Kesepuluh, lebih banyak mendekatkan diri dengan Sang Pencipta, Sang Penguasa kehidupan ini. Lakukan kegiatan kerohanian atau sosial demi menjaga kebersihan hati. Kesepuluh.

Dengan berjalannya waktu , bersama atmosfir positif yang sengaja diciptakan dan diupayakan di lingkungan, anak-anak akan berjalan dengan sendirinya, tak lagi memusingkan orangtuanya serumah atau tidak lagi. Apalagi kalau orang sekelilingnya menyayangi mereka dengan tulus. Percayalah, mereka akan berkembang sebagaimana mestinya.

 

Read Full Post »

Ketika Harus jadi Ibu Tunggal (II)

Semua telah terjadi, suami tak ada lagi di tengah keluarga lantaran harus pisah.

Predikat baru itu tertempel sudah. Mulailah mengisi hari dengan peran ganda, sebagai kepala keluarga dan ibu sekaligus bukan atas nama pilihan namun keadaan. Selain resiko pribadi ada juga resiko ekstern yang tak terhindarkan.

Satu-satu jalan adalah mau memberdayakan diri sendiri. Jangan terlalu lama terseret kepedihan. Tentukan momen kebangkitan. Jangan merasa kehilangan pegangan (untuk sementara bisa berpegangan pada orangtua atau saudara yang tidak pernah berburuk sangka). Di alam nyata ini memang ada kondisi, dimana teman yang dulunya dekat bahkan lengket bak saudara, menjadi ‘seperti teman’ bahkan menjauh ketika predikat ibu tunggal itu ada (mereka sepertinya punya ketakutan yang tak terungkapkan). Belum lagi ketika dalam suatu kesempatan si ibu tunggal ini dengan jujur memperkenalkan diri dan statusnya. Nah, biasanya muncullah komentar negatif. Apalagi jika si ibu tunggal memiliki tugas terkait keluarga, maka akan ada suara sumbang mencuat ‘ kalau mempertahankan suami sendiri saja tidak bisa bagaimana mau membina orang lain? Dsb dsb.

Nah, ini yang namanya resiko. Itu hanyalah tanggapan yang harus dimaklumi. Sebab. batas pemikiran mereka baru sampai di sana, dibenaknya tertanam kalau yang bisa membina orang lain hanya mereka dari keluarga yang utuh. Kalau saja mereka mau lebih terbuka, bahwa si ibu tunggal juga manusia dengan segala haknya sama seperti manusia lainnya.

Rada berat memang untuk lepas dari sistem masyarakat yang punya kesan tersendiri terhadap perempuan, khususnya yang cerai hidup. Petik hikmahnya, justru di sinilah si ibu tunggal menjadi lebih mengenal hidup yang sesungguhnya (mengembangkan kebiasaan berpikir positif).

Segala situasi terburuk diantara yang buruk tergantung upaya menyikapinya. Dengan sabar juga bisa. Malah, mereka harus dikasihani, jika mungkin bantu mereka dengan doa agar memiliki hati yang bersih tidak terlalu banyak berprasangka pada orang lain. Ibu tunggal tak perlu fokus pada kesan orang lain ini tapi kumpulkan energi untuk terus mengisi hidup ini demi anak-anak tercinta dan keluarga terkasih. Bangunlah masa depan bersama mereka (pernikahan itu kan kendaraan, kalau sudah berusaha bahkan berulang kali di bawa ke bengkel tapi tak mungkin hidup lagi,) Segera bertindak. Jalan kaki tak berarti mati kan?. Urusan pasang surut kehidupan bukan hanya menimpa ibu tunggal tapi semua orang yang masih hidup, hanya bentuk cobaannya beda. Bahwa perlu dicatat bahagia dan suka cita boleh dimiliki siapa saja termasuk ibu tunggal. Lagi-lagi harus yakin, Tuhan tahu yang terbaik untuk umatnya.

 

Read Full Post »

Ketika Harus jadi Ibu Tunggal (I)

Karena suatu peristiwa, bisa saja jalinan suami istri itu harus putus dan jadi cerai (divorce). Lantas ada predikat baru untuk si Ibu, dapatlah sebutan janda (tapi aku jujur kurang suka sebutan ini, lebih senang sebutan Ibu tunggal (single parent)). Seorang Ibu tak lagi berpartner dengan sang suami. Tak ada lagi yang diajak tertawa dalam suka, menampung kesedihan ketika duka termasuk berbagi mengurus rumah tangga. Tak ada lagi yang diajak berhitung dan gotong royong tanggung jawab terhadap anak-anak untu urusan sosial, pendidikan dan kesehatannya.

Pasti cerai itu sulit, lebih-lebih bercerai hidup, keadaannya akan lebih tidak enak gitu. Bukan melulu persoalan bik irah i (baca birahi) itu saja tapi sepi dan sedih ketika melihat teman lain berpasangan. Ada sebuah kondisi berbeda dari semula secara emosional (yang ini susah diungkap pakai kalimat). Belum lagi pandangan masyarakat terhadap perempuan. Kesendirian akibat perceraian, terkadang mendapat cap agak miring sehingga dalam bergaul pun tak sebebas ketika memiliki pasangan. Poinnya : ‘Apapun penilaian dan komentar orang lain, biarlah’ (hanya dengan berdoa pada Tuhan yang akan mendatangkan kekuatan dan kebajikan)

Begitulah ada beban lebih di pundak Ibu ketika dua peran dipanggul sendiri. Mulai dari menghadapi masalah sampai penyelesaian masalahnya. Lanjut membiasakan diri terhadap aktivitas teknis di rumah yang umumnya maskulin, seperti mengangkat galon air mineral, memerbaiki keran bocor, mengganti bola lampu kamar yang padam termasuk urusan kendaraan dan sebagainya. Tentu juga tak ada lagi ultah perkawinan.

Apapun nama akibat yang ditimbulkan dari sebuah perpisahan (aku kurang suka dengan kata perceraian), namun ‘mending’ dibanding couple tapi tanpa saling menghargai. Aku setuju dengan kalimat ada yang pernah aku baca dan mengatakan “Perceraian itu jahat tapi perkawinan yang penuh ‘kekerasan’ jauh lebih jahat”.

Ketika keadaan demikian semrawutnya pada pasangan suami – istri (pasutri), maka pilihan untuk sendiri, sedikit memberi ruang untuk menghirup dan menghembuskan nafas lebih lapang. Berat tapi tidak jadi tersesat. Mencoba mengolah rasa pada satu titik yang dapat mengangkat kembali semangat. Akan lebih baik jika disertai dengan berprilaku sehat.

Siapapun pastinya tak pernah berharap kejadian atau pengalaman pahit seperti ini datang menjemput. Dibutuhkan percikan suport dari keluarga (orangtua dan saudara kandung ), lebih baik jika ada teman serta kerabat berempati, tentu bisa menguatkan langkah terus menapak. Berpisah bukan berarti kiamat kan?

Namun, persoalan bukan hanya sampai di sini, pasca perceraian cerita lain terus bergulir bersama waktu……

Read Full Post »

Mulai dari Sini

Bunga Merah Jambu

Mulai dari sini… dan nikmati hidup!

 

Read Full Post »