Feeds:
Pos
Komentar

Posts Tagged ‘Add new tag’

Ketika Harus Jadi Ibu Tunggal (III)

Keluarga yang utuh adalah idaman semua orang pastinya. Adakalanya cerita hidup berujar lain dan tak terelakkan.

Lantas bagaimana dengan anak-anak? Mereka adalah masalah utama dalam peristiwa perpisahan pasutri. Pastinya mereka sangat kecewa dan sangat terluka. Dua orang yang sama-sama berarti dan sangat dicintai akhirnya berpisah. Namun, mereka tak miliki kemampuan mencegah. Kondisi menjadi tidak mudah juga setelah mereka harus mondar mandir diantara kedua orangtuanya

Sebaik-baiknya kondisi diciptakan sang ibu, menjadi tidak mudah buat anak. Ada ketidaksiapan di hatinya untuk bersama salah seorang diantara orangtuanya. Apalagi mereka harus menjaga kedua perasaan orangtuanya ketika berada di rumah salah seorang dari mereka. Meski ibu memberikan kasih yang banyak, tetap saja di hati mereka ada yang masih kurang (seringkali tak diungkapkan). Umumnya anak cenderung menjadi malu pada lingkungan, suka melamun, banyak diam, mudah marah dan sangat sensitive (naumn tidak mutlak tergantung back up lingkungan).

 

Ibu tunggal yang menjadi kepala keluarga sekaligus berperan sebagai ayah tentu tak ingin anak-anak hancur. Ada upaya dilakukan. Pertama, ibu dalam peristiwa perpisahan ini tak menyalahkan siapa-siapa dan sadar diri bukan super women. Namun belajar bisa legowo (meski tidak segampang membalik telapak tangan) menerima kondisi, maka energi positf lebih mudah di tebar ke jiwa anak-anak. Kedua, yakinkan diri bahwa anak-anak yang masuk dalam kondisi ini telah diberi kekuatah oleh Tuhan, tak perlu khawatir berlebihan. Ketiga, tidak menjelek – jelekkan sang ayah, apalagi memanfaatkan anak untuk balas dendam pada sang ayah (jangan!!) Keempat, mendekatkan anak-anak pada adik laki-laki sebagai pengganti figur ayah dan memberi lingkungan yang kondusif untuk mental dan pemenuhan emosi mereka.

Kelima, Mungkin ibu perlu lakukan konseling pribadi pada orang yang dipercaya atau pada ahlinya untuk bisa lebih bijaksana hadapi tingkah polah anak, jika suatu kalau rada over. Keenam, ibu mau bekerja keras untuk peningkatan ekonomi demi pemenuhan fasilitasi anak dari segala aspek. Ketujuh, memberi contoh prilaku. Ajak melihat sekeliling terutama orang-orang di bawah, bahwa masih banyak yang jauh lebih menderita dibanding mereka. Kedelapan, menciptakan waktu khusus bercengkrama, hanya antara ibu dan anak. Biarkan mereka menumpahkan isi hatinya atau sebaliknya. S, setelahnya lakukan kegiatan yang menyenangkan. Kesembilan, berikaan anak kebebasan, jika sewaktu-waktu ingin bersama ayah atau ibunya.

Kesepuluh, lebih banyak mendekatkan diri dengan Sang Pencipta, Sang Penguasa kehidupan ini. Lakukan kegiatan kerohanian atau sosial demi menjaga kebersihan hati. Kesepuluh.

Dengan berjalannya waktu , bersama atmosfir positif yang sengaja diciptakan dan diupayakan di lingkungan, anak-anak akan berjalan dengan sendirinya, tak lagi memusingkan orangtuanya serumah atau tidak lagi. Apalagi kalau orang sekelilingnya menyayangi mereka dengan tulus. Percayalah, mereka akan berkembang sebagaimana mestinya.

 

Iklan

Read Full Post »